Rabu, 22 Februari 2012

REHABILITASI LAHAN TSUNAMI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS LAHAN


REHABILITASI LAHAN TSUNAMI DALAM UPAYA MENINGKATKAN    PRODUKTIVITAS LAHAN    

I. PENDAHULUAN

Gempa bumi dan tsunami yang memporak porandakan kawasan pantai barat dan timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada tanggal 26 Desember 2004 telah menimbulkan berbagai masalah yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengatasinya. Cakupan persoalan jangka panjang untuk sektor pertanian meliputi antara lain hilangnya sebagian lahan usahatani karena terendam air laut secara permanen, rusaknya lahan usaha tani oleh erosi, meningkatnya kadar garam (salinitas) tanah, rusaknya sistem irigasi dan drainase (Rachman et al., 2008). Sedikitnya 120.000 ha lahan rusak atau tergenang air laut dan sekitar 27,8% dari areal tersebut merupakan lahan pertanian. Sampai saat ini, lahan pertanian yang rusak tersebut banyak yang belum dimanfaatkan kembali secara optimal. Pemanfaatan dan rehabilitasi lahan akan lebih efektif dan efisien bila mempertimbangkan kondisi lahan dan tingkat kerusakannya (Shofiyati, 2006).    
Bencana tsunami tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik terhadap bangunan, jalan, jembatan, sistem sanitasi dan lainnya, tetapi juga menyebabkan tercemarnya lahan pertanian yang disebabkan oleh intrusi air laut dan terendapnya lumpur berkadar garam tinggi di atas permukaan tanah (Rachman et al., 2008). Air laut mengandung garam yang tinggi (>500 me l-1), terutama dalam bentuk NaCl, kombinasi basa-basa kation (K, Ca, Mg), sulfat, bikarbonat dan klorin (anion). Apabila air laut ini menggenangi lahan pertanian akan menyebabkan meningkatnya salinitas tanah. Bencana Tsunami tidak hanya menggenangi lahan pertanian dengan air laut, tetapi juga mengendapkan lumpur berkadar garam tinggi. Garam pada lumpur ini dapat terinfiltrasi ke dalam tanah dan berpotensi untuk meningkatkan salinitas tanah di daerah perakaran, merusak struktur tanah, dan mencemari air tanah (Cardon et al., 2003 dan Franzen, 2003).       
Salinitas tanah merupakan faktor pembatas penting pertumbuhan tanaman. Kadar garam yang tinggi dalam larutan tanah akan menyebabkan osmotik potensial larutan dalam tanah berkurang. Larutan akan bergerak dari daerah yang konsentrasi garamnya rendah ke konsentrasi tinggi. Akibatnya akar tanaman kesulitan menyerap air, karena air terikat kuat pada partikel-partikel tanah dan dapat menyebabkan terjadinya kekeringan fisiologis pada tanaman.
Pada kondisi dimana konsentrasi garam dalam larutan tanah sangat tinggi, maka air dari dalam sel tanaman bergerak keluar, dinding protoplasma mengkerut dan sel rusak karena terjadi plasmolisis. Selain tanaman harus mengatasi tekanan osmotik tinggi, pada beberapa tanaman dapat terjadi ketidak seimbangan hara disebabkan kadar hara tertentu terlalu tinggi, dan adanya bahaya potensial keracunan natrium dan ion lainnya. Konsentrasi natrium yang tinggi dalam tanah yang ditunjukkan oleh nilai ESP (exchangeable sodium percentage) > 15 mengakibatkan rusaknya struktur tanah yang selanjutnya akan menghambat perkembangan akar tanaman (FAO, 2005).
Rehabilitasi diartikan sebagai suatu usaha pembenahan yang ditujukan kepada lahan yang telah rusak, agar dapat dipergunakan kembali. Dengan  kata  lain, upaya rehabilitasi adalah upaya mengembalikan fungsi tanah agar bisa  mendekati kondisi awal yang berkualitas dalam kesuburan maupun sifat fisikanya. Rehabilitasi tanah terdegradasi dapat ditinjau dari sifat tanah yang mengalami penurunan dan diupayakan dilakukan perbaikan dengan menggunakan amelioran. Adanya campuran lumpur pasir laut tersebut telah mengubah tingkat kesuburan tanah, hal ini memberikan dampak pada kualitas dan hasil panen pasca tsunami. Untuk itu perlu adanya upaya penanggulangan masalah tersebut dengan jalan melakukan rehabilitasi lahan (Rachman et al., 2008).       
  
II. DAMPAK KERUSAKAN LAHAN AKIBAT TSUNAMI

Kerusakan lahan pertanian oleh tsunami sebagian besar terjadi oleh beberapa faktor yaitu: Kegaraman (salinitas) dan sodisitas (kadar Na tinggi), Endapan lumpur laut, Sampah dan puing-puing bangunan dan Rusaknya infrastruktur irigasi/drainase, Air laut mengandung garam yang tinggi (>500 me l-1), terutama dalam bentuk NaCl, kombinasi basa-basa kation (K, Ca, Mg), sulfat, bikarbonat dan klorin (anion). Apabila air laut ini menggenangi lahan pertanian akan menyebabkan meningkatnya salinitas tanah. Bencana tsunami di Aceh tidak hanya menggenangi lahan pertanian dengan air laut, tetapi juga mengendapkan lumpur berkadar garam tinggi. Garam pada lumpur ini dapat terinfiltrasi ke dalam tanah dan berpotensi untuk meningkatkan salinitas tanah di daerah perakaran, merusak struktur tanah, dan mencemari air tanah (Cardon et al, 2003 dan Franzen, 2003).    
Salinitas menunjukkan kadar senyawa kimia yang terlarut dalam tanah. Tanah salin adalah tanah yang mengandung senyawa organik seperti (Na+, Mg2+, K+, Cl+, SO42-, HC03-, dan CO32-) dalam suatu larutan sehingga menurunkan produktivitas tanah. Salinitas tanah yang tinggi, akan merusak kesuburan tanah,
karena akan mematikan organisme penyubur tanah seperti bakteri dan cacing tanah. Pada wilayah pertanian maju cacing tanah diupayakan agar tetap hidup melalui rekayasa lingkungan, sehingga mampu mengembalikan kesuburan tanah (Lines and Kelly, 2000).  
Berdasarkan hasil analisis tanah Rachman et al. (2008), tanah yang terkena tsunami dapat digolongkan sebagai tanah saline-sodic yang ditandai oleh nilai ESP (exchangeable sodium percentage) tanah > 15 % dengan pH < 8,5. Faktor utama penyebab meningkatnya nilai ESP adalah terakumulasinya ion Na yang terbawa lumpur tsunami dalam konsentrasi yang sangat tinggi (>1 cmolc kg-1) di  permukaan tanah. Konsentrasi ion Na dalam tanah yang tinggi akan merusak struktur tanah, mengganggu keseimbangan unsur hara, dan menurunkan ketersediaan air untuk pertumbuhan tanaman.     
Menurut Emerson dan Bakker (1973) dalam Rachman et al. (2008), tanah mulai terdispersi pada kandungan Na tanah sekitar 5%. Makin tinggi kandungan Na tanah, makin mudah tanah terdispersi. Partikel tanah yang telah terdispersi akan bergerak menyumbat pori-pori tanah menyebabkan tanah memadat dan suplai oksigen untuk pertumbuhan akar dan mikroba tanah menurun drastis. Infiltrasi juga sangat terhambat menyebabkan sangat sedikit air yang masuk ke dalam tanah dan sebagian besar tergenang di permukaan dan menyebabkan terjadinya pelumpuran. Sangat sedikit tanaman yang dapat tumbuh jika kondisi tersebut telah terjadi. Pertumbuhan tanaman terhambat, selain oleh jeleknya sifat fisik tanah juga karena terbentuknya ion-ion beracun seperti Na+, OH-, dan HCO3-.
Garam-garam atau Na+ yang dapat dipertukarkan akan mempengaruhi sifat-sifat tanah jika terdapat dalam keadaan yang berlebihan dalam tanah. penyerapan  Na+ oleh partikel-partikel tanah akan mengakibatkan pembengkakan dan  penutupan pori-pori  tanah yang memperburuk pertukaran gas, dispersi material koloid tanah, struktur tanah serta pH tanah menjadi lebih tinggi karena kompleks  serapan dipenuhi oleh ion Na+. Menurut Achmad (2006), nilai pH dapat berpengaruh dalam dinamika unsur di dalam tanah. pH tinggi menyebabkan ketersediaan unsur hara makro lebih tinggi dan ketersediaan unsur hara mikro lebih rendah. Jika pH rendah berlaku sebaliknya, ketersediaan unsur hara makro pada umumnya menurun dan unsur hara mikro tersedia berlebihan sehingga dapat meracuni tanaman (Achmad, 2006).
Gelombang tsunami juga membawa lumpur dari dasar laut yang kemudian mengendap di lahan pertanian, sumur-sumur, kolam, cekungan, dan tempat-tempat lain. Ketebalan lumpur bervariasi dari <5 cm sampai sekitar 20 cm. Makin jauh dari pantai endapan lumpur makin halus dengan kandungan liat tertinggi sekitar 43% dan terendah sekitar 8%. Selain mengandung garam-garam yang berpotensi meningkatkan salinitas tanah, lumpur tsunami juga mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca, Mg, dan K yang tinggi sampai sangat tinggi. Dengan demikian apabila konsentrasi Na dapat dikurangi melalui pencucian disertai dengan pemberian amelioran tanah seperti gypsum atau pupuk organik, lumpur tsunami berpotensi untuk memperbaiki kandungan C organik dan kation-kation tanah (Rachman et al., 2008).        

III. STRATEGI REHABILITASI LAHAN TSUNAMI

Rehabilitasi lahan pertanian akibat bencana Tsunami didasarkan pada tingkat kerusakan lahan yang diakibatkan oleh salinitas, macam dan ketebalan endapan lumpur. Makin berat kerusakannya, makin intensif pula rehabilitasi lahan yang harus dilakukan. Selain itu rehabilitasi lahan juga harus mempertimbangkan jenis masalah yang menyebabkan kerusakan lahan dan lumpuhnya kapasitas sistem usaha tani. Rehabilitasi lahan akibat salinitas berbeda dengan lahan-lahan yang juga memiliki masalah sodisitas, masalah endapan lumpur dan kerusakan infrastruktur. Upaya rehabilitasi lahan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:       
3.1  Pencucian Garam 
Pencucian garam dapat dilakukan pada kondisi jenuh air dengan menggunakan curah hujan atau dengan air segar dari sungai. Pengalaman menunjukkan bahwa pencucian secara berselang pada interval 1 atau 2 minggu dapat diaplikasikan dengan efektif. Cara ini lebih menguntungkan dibanding cara penggenangan disertai pencucian, karena periode kering pada saat tidak dicuci dapat mengakibatkan retakan pada lapisan tanah (terutama tanah liat). Pada saat terjadi retakan tersebut akan terjadi pula pemindahan garam dari lapisan bawah ke bagian retakan sehingga dengan mudah dapat dicuci pada tahap pencucian berikutnya (Subagyono, 2005).
Untuk mempercepat pencucian garam, salah satu cara adalah membangun sistem drainase. Saluran drainase ini akan mempercepat aliran air dari lahan untuk dibuang keluar melalui saluran kuarter dan tersier (Subagyono, 2005). Menurut Rachman et al (2008). Saluran drainase yang berfungsi baik dapat membuang garam-garam dari lahan pertanian, sehingga memungkinkan ditanami kembali dengan kacang tanah dan tanaman palawija lain. Selain itu, pembangunan kembali pematang-pematang sawah yang rusak diterjang tsunami perlu segera dilaksanakan. Pematang tersebut sebaiknya lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum tsunami untuk menampung lebih banyak air hujan berkadar garam rendah, sehingga dapat lebih efektif menurunkan kadar garam tanah.
Pencucian garam ke lapisan tanah lebih dalam sehingga menjauhi zona perakaran dapat dilakukan terutama pada daerah yang permeabilitas tanahnya cukup baik, air tanahnya dalam (>2 m), dan curah hujannya sedang sampai tinggi. Teknik pencucian ini dapat efektif dilakukan selama musim penghujan, namun berisiko meningkatkan kadar salinitas tanah di daerah perakaran selama musim kemarau akibat tingginya penguapan dari pori-pori tanah. Untuk menghindari risiko tersebut, pada lahan pertanian yang telah direklamasi perlu dilakukan tindakan rehabilitasi (Rachman et al., 2008).          

3.2  Aplikasi Gypsum (CaSO4)
Untuk mengatasi masalah sodisitas (kadar Na tinggi) diperlukan bahan amelioran seperti gypsum. Gypsum  menggantikan  ion  sodium  dalam  tanah  dengan kalsium, dan sebagai akibatnya secara aktif membuang sodium dan meningkatkan perkolasi tanah. Pilihan ini dapat diaplikasikan hanya ketika pH tanah lebih tinggi dari 8,5 (misalnya tanah sodik) dan jika cara mekanis sederhana tidak efektif menghancurkan lapisan padat liat/debu. Penggunaan gipsum (CaSO4) dapat mempercepat pencucian Na dan mengurangi salinitas tanah. Bahan amelioran lain yang dapat digunakan disajikan pada Tabel 1.  
Tabel 1. Bahan amelioran untuk reklamasi tanah alkalin (Mengandung Na)
Jenis Amelioran
Bahan Kimia
Garam kalsium mudah larut
Calcium chloride

Gypsum
Garam asam
Sulfur

Sulfuric acid

Besi sulfat

Aluminium sulfat

Lime-sulfur
Garam kalsium sulit larut
Batuan kapur (ground limestone)

Produk kapur dari pabrik gula
Sumber : Subagyono (2005)
Kebutuhan gypsum sangat tergantung pada kadar Na tertukar di dalam tanah. Penetapan sodium tertukar dan kapasitas tukar kation (KTK) sangat membantu dalam estimasi jumlah amelioran. Tanah dengan kedalaman 0-30 cm mengandung Na tertukar 4 cmol (+) kg-1, KTK 10 cmol (+) kg-1, dengan demikian ESP sama dengan 40.  Jika ESP ingin diturunkan menjadi 10, diperlukan untuk mengganti Na sebanyak 3 cmol (+) kg-1, sehingga diperlukan bahan amelioran pada level 3 cmol (+) kg-1 tanah (Subagyono, 2005).

3.3  Pemberian Bahan Organik 
Tindakan rehabilitasi ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah dapat dilakukan antara lain dengan pemberian bahan pembenah tanah seperti pupuk kandang, pupuk organik, abu sekam, dan pemulsaan. Pemberian bahan pembenah tanah yang tersedia di lokasi seperti pupuk kandang, sekam padi, dan pupuk organik lainnya sebanyak 5-10 t ha-1 sangat penting dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah, keseimbangan hara, kemampuan menyimpan air   (water holding capacity) dan mengurangi penguapan jika bahan-bahan tersebut disebar di permukaan tanah (Rachman et al., 2008).             
Pemberian  bahan  organik/amandemen  bokashi  jerami  atau  pembenah  tanah pada lahan salin dapat menurunkan pH dan memperbaiki kesuburan tanah. Munawar (2011) menyatakan, bahan organik berpengaruh terhadap sifat-sifat fisika tanah melalui berbagai cara. Sisa-sisa tanaman yang masih asli dan berada di permukaan tanah melindungi permukaan tanah dari proses pengerasan dan pergerakan akibat jatuhan butir hujan, sehingga memacu infiltrasi dan mengurangi aliran permukaan. Peningkatan bahan organik secara tidak langsung dapat meningkatkan porositas tanah melalui peningkatan aktivitas fauna tanah. Bahan organik segar memacu aktivitas makrofauna seperti cacing tanah yang menciptakan lubang-lubang dengan bahan sekresi dari tubuhnya, kemudian terisi dengan bahan kascingnya. Jumlah air infiltrasi ke dalam tanah tergantung pada masa penutupan tanah.
            Bahan organik tanah merupakan salah satu bahan pembentuk agregat tanah, yang mempunyai  peran  sebagai  bahan  perekat  antar  partikel  tanah  untuk  bersatu  menjadi agregat  tanah,  sehingga  bahan  organik  penting  dalam  pembentukan struktur tanah. Pengaruh  pemberian  bahan  organik  terhadap  struktur tanah sangat  berkaitan  dengan tekstur  tanah  yang  diperlakukan  (Atmojo, 2003). Bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah melalui sifat-sifat adhesif dari bahan organik, seperti bahan sisa bakteri, gel organik, hifa jamur, dan sekresi cacing yang mengikat partikel-partikel tanah bersama-sama membentuk agregat yang mantap (Munawar, 2011).
Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah tersedianya unsur hara, juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat, bobot volume, total ruang pori, plastisitas dan daya pegang air. Kartasapoetra (2000) menyatakan, pupuk kandang mempunyai daya untuk mempertinggi kadar humus dan memperbaiki struktur tanah, humus mempunyai peranan penting dalam pembentukan tanah remah, karena humus mempunyai sifat kolloid hidrofil yang dapat digumpalkan dan dijadikan gel kembali. Tanah remah-sedang cenderung tampak agak bergumpalan (aggregasi) dan ada yang dalam keadaan bentuk porouse berlubang-lubang bergeronggong yang memudahkan aliran air menerobos menyerab ke dalam lapisan-lapisan tanah sebelah bawah.
Pupuk kandang bermanfaat atau mempunyai daya untuk : Meningkatkan kesuburan tanah, mendorong kehidupan jasad renik dan sebagai sumber unsur mikro yang dibutuhkan tanaman, sehingga keseimbangan unsur hara di dalam tanah menjadi lebih baik. Pelapukan dan perombakan pupuk kandang akan mengakibatkan persenyawaan nitrogen yang terdapat dalam bahan organik (misalnya polipeptida dan asam amino menjadi ammonia, sulfat, fosfat, asam arang, dan air). Dan dalam hal menghasilkan humus mempunyai peranan penting dalam mengikat air, humus mempunyai sifat dapat mengikat air sampai empat atau enam kali beratnya sendiri sehingga dapat mempertinggi daya untuk menahan air. Persediaan ini penting untuk melarutkan unsur hara sehingga tersedia bagi tanaman untuk pertumbuhannya, dengan terikatnya air oleh humus berarti dapat mengurangi air perkolasi, sehingga pencucian unsur-unsur hara oleh air dapat direduksi. Selain itu humus adalah kolloid yang bermuatan negatif, sehingga dapat mengadsorbsi kation pada permukaan humus tersebut. Hal tersebut dapat mereduksi peristiwa pencucian unsur hara di dalam tanah (Kartasapoetra, 2000). Tanah yang kaya bahan organik mampu mengikat dan menyimpan unsur-unsur hara tanaman yang bermuatan positif atau unsur logam, seperti Ca, Mg, dan K. Jika KTK meningkat, tanah akan menggandeng lebih banyak hara dan membebaskannya untuk pertumbuhan tanaman (Griffin, 2008 dalam Munawar, 2011).  
            Bahan organik merupakan sumber energi bagi makro dan mikro-fauna  tanah. Penambahan bahan organik dalam tanah akan menyebabkan aktivitas  dan  populasi mikrobiologi  dalam tanah  meningkat, terutama  yang  berkaitan dengan aktivitas dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Beberapa  mikroorganisme yang beperan dalam dekomposisi bahan organik adalah fungi, bakteri dan aktinomisetes. Di samping mikroorganisme tanah, fauna tanah juga berperan dalam dekomposi bahan organik antara lain  yang  tergolong dalam  protozoa, nematoda, Collembola, dan cacing tanah.  Fauna tanah ini berperan dalam proses humifikasi dan mineralisasi atau pelepasan hara, bahkan ikut bertanggung  jawab  terhadap pemeliharaan struktur tanah. Mikro flora dan fauna tanah ini saling berinteraksi dengan kebutuhannya akan bahan organik, kerena bahan organik menyediakan energi untuk tumbuh dan bahan organik memberikan karbon sebagai sumber energi (Atmojo, 2003). Bahan organik memperbaiki sifat biologi tanah dengan mengikat butir-butir partikel membentuk agregat dari benang hyphae terutama dari jamur  micorhyza dan hasil eskresi tumbuhan dan hewan lainnya.   
                   Keberadaan makrofauna di dalam tanah mempercepat dekomposisi masukan bahan organik. Bahan organik segar merupakan pakan bagi makrofauna. Melalui pencernaannya terjadi penguraian bahan organik, dan sebagian hasil pengurainya dibebaskan kembali ke tanah dalam bentuk kotoran yang dihasilkannya. Oleh karena itu kotoran makrofauna umumnya berkandungan C organik dan unsur tersedia yang lebih tinggi dibandingkan tanah disekitarnya. Namun demikian komposisi kimia kotoran makrofauna sangat beragam, bergantung pada jenis makrofaunanya, jenis dan jumlah pakannya serta jenis tanahnya (Ma’shum, 2003).

IV. KESIMPULAN

1. Kerusakan lahan pertanian oleh tsunami sebagian besar terjadi oleh beberapa faktor yaitu: Kegaraman (salinitas) dan sodisitas (kadar Na tinggi), Endapan lumpur laut, Sampah dan puing-puing bangunan, Rusaknya infrastruktur irigasi/drainase dan jalan.
2.  Air laut mengandung garam yang tinggi (>500 me l-1), terutama dalam bentuk NaCl, kombinasi basa-basa kation (K, Ca, Mg), sulfat, bikarbonat dan klorin (anion). Apabila air laut ini menggenangi lahan pertanian akan menyebabkan meningkatnya salinitas tanah. Bencana Tsunami tidak hanya menggenangi lahan pertanian dengan air laut, tetapi juga mengendapkan lumpur berkadar garam tinggi. Garam pada lumpur ini dapat terinfiltrasi ke dalam tanah dan berpotensi untuk meningkatkan salinitas tanah di daerah perakaran, merusak struktur tanah, dan mencemari air tanah.
3.  Pencucian garam dapat dilakukan pada kondisi jenuh air dengan menggunakan curah hujan atau dengan air segar dari sungai. Pengalaman menunjukkan bahwa pencucian secara berselang pada interval 1 atau 2 minggu dapat diaplikasikan dengan efektif. Cara ini lebih menguntungkan dibanding cara penggenangan disertai pencucian.
4. Untuk mengatasi masalah sodisitas (kadar Na tinggi) diperlukan bahan amelioran seperti gypsum. Gypsum  menggantikan  ion  sodium  dalam  tanah  dengan kalsium, dan sebagai akibatnya secara aktif membuang sodium dan meningkatkan perkolasi tanah.
5. Tindakan rehabilitasi ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah dapat dilakukan antara lain dengan pemberian bahan pembenah tanah seperti pupuk kandang, pupuk organik, abu sekam, dan pemulsaan. Pemberian bahan pembenah tanah yang tersedia di lokasi seperti pupuk kandang, sekam padi, dan pupuk organik lainnya sebanyak 5-10 t ha-1 sangat penting dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah, keseimbangan hara, kemampuan menyimpan air (water holding capacity) dan mengurangi penguapan jika bahan-bahan tersebut disebar di permukaan tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, A. 2006. Identifikasi Kerusakan Lahan dan Pendapat Masyarakat Terhadap Rencana Rehabilitasi Lahan Pertanian Pasca Tsunami (Studi Kasus Kecamatan Lho’nga Kabupaten Aceh Besar ). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/
handle/123456789/7903/2006aac.pdf?sequence=2 (Diakses Tgl 6 Februari 2012).

Atmojo, S. W. 2003. Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah dan Upaya Pengelolaannya. Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Cardon, G. E., Davis, J. G., Bauder, T. A. and Waskom, R. M. 2003. Managing Saline Soil. Colorado State University Cooperative Extension.
 
FAO. 2005. Final Report for SPFS-Emergency Study on Rural Reconstruction Along the Eastern Coast of NAD Province. Government of the Republic of Indonesia, Ministry of Agriculture, Food and Agriculture Organization of the United Nations. Nippon Koei Co. Ltd.

Franzen, D. 2003. Managing Saline Soils in North Dakota. North Dakota State University, Fargo.

Kartasapoetra, G., Kartasapoetra, A. G., Sutedjo, M. M. 2000. Teknologi Konservasi Tanah dan Ait. Rineka Cipta. Jakarta.

Lines and Kelly, R. 2000. Soil sense: Soil management for NSW North Coast farmers. NSW Agriculture & Land and Water Conservation, Wollongbar.

Ma’shum, M., Soedarsono, J., Susilowati, L. E. 2003. Biologi Tanah. CPIU Pasca IAEUP, Bagpro Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia, Ditjen Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Munawar, A. 2011. Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman. IPB Press. Bogor.

Rachman, A., Erfandi, D., Ali, M, N. 2008. Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. Bogor. http://balittanah.litbang.deptan.go.id/eng/dokumentasi/lainnya/jurnal_arachman28.pdf (Diakses Tgl 6 Februari 2012).

Shofiyati, R. dan Wahyunto. 2006. Inderaja untuk Identifikasi Kerusakan Lahan Akibat Tsunami dan Rehabilitasinya. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanin. Bogor. http://pustaka.
litbang.deptan.go.id/publikasi/wr28306k.pdf (Diakses Tgl 6 Februari 2012).

Subagyono, K. 2005. Rehabilitasi Lahan Pasca Tsunami Di Nanggroe Aceh Darussalam. Balai Penelitian Tanah, Badan Litbang Pertanian. Bogor.http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/
leaflet/tsunami.pdf (Diakses Tgl 6 Februari 2012).

Wiskandar, 2002. Pemanfaatan pupuk kandang untuk memperbaiki sifat fisik tanah di lahan kritis yang telah diteras. Konggres Nasional VII. 


Tidak ada komentar: